Jumat, 19 Juni 2009

Taman Maluku Dikerangkeng

"Orang Bandung memang gak bisa diberi kebebasan"
KEBERADAAN taman umum di Kota Bandung yang bebas dimasuki semua orang dan kapan saja, memang bikin serba salah. Ketika Taman Maluku dipagari bagaikan taman milik pribadi, para inohong pemerhati lingkungan kota pada berteriak: pengelola kota dianggap tidak ramah pada warganya.
Tapi, ada adab yang justru bisa dilihat dari terkerangkengnya taman peninggalan zaman penjajahan Belanda ini. Taman ini tampak asri terawat dan bebas sampah (bebas banci juga kalee), dibanding ketika sebelum taman ini digembok. Warga memang tidak bisa memasukinya. Tapi....mata ini terasa teduh melihat taman yang bersiiiiiiih, seperti bukan di Bandung.

Dan LIHATLAH sodara-sodara!!! Sangat tidak jauh dari Taman Maluku, hanya beberapa meter saja, sampah menumpuk memenuhi drainase, alias parit. Pemandangan yang sebenarnya umum sekali bisa ditemui di seluruh penjuru Bandung. Hhh.... adab warga Bandung mungkin memang harus "dikerangkeng". Biar otaknya kagak meneruskan sinyal liar ke tangannya untuk seenaknya melempar sampah.
Sebagai "oposan", melihat fenomena-fenomena model begini, ada semacam keberpihakan aneh di dalam diri terhadap kebijakan pemkot yang tidak populer ini. Apakah kita harus meneriakan: BRAVO PEMKOT BANDUNG!! Kerangkenglah semua taman di Bandung!!
Boleh jadi. Karena mata ini sudah lelah melihat kekumuhan-kekumuhan yang tidak ada habisnya di kota ini. Pemkot mungkin memang kurang punya dedikasi dan miskin idealisme terhadap kotanya. Tapi semua penghuni kota ini ---yang menjejali Bandung siang dan malam-- barangkali juga terlalu disibukkan dengan urusan isi perut dan hasrat duniawinya, sehingga kurang peduli pada hal-hal kecil di sekitarnya. Cape deeeeh....

4 komentar:

Unknown mengatakan...

Rur, aku merasakan lah kerinduanmu pd lingkungan ys tertib dan bersih dari sampah, taman-taman kota yg asri dan bebas dilewati penghuninya, udara yg teduh dan bebas polusi.. ahh.. gmn neeh? kita pindah ke luar negeri aja gitu?? hayu atuh..

Ruri Andayani mengatakan...

Gilee deh loe, hanya dengan segelintir kalimat aja dikau langsung bisa memahami (hik..hik...terharu). So, kalo ada tiket kosong untuk escape ke Eropa, buatku dulu, jangan buat Aas dulu, Hahaha...

Tapi gak usah jauh-jauh sih, ke Denpasar juga oke.

Asri mengatakan...

konon urusan kesejahteraan masyarakat berbanding lurus dengan tingkat kebersihan dan keselarasan lingkungan, tapi enggak jarang Rur di Bdg, daku melihat orang-orang plang-plung,lempar sampah sembarangan begitu saja dari dalam mobil mewahnya!!!! :///

Ruri Andayani mengatakan...

Ternyata itu tidak terbukti toch!! Yang jelas, perlu dedikasi yg tinggi dari para pengelola kota, serta tentunya anggaran yang besar, untuk bisa menertibkan masyarakat. Buktinya, Singapura bisa bersih karena aturannya ketat. dan keketatan aturan butuh para pengawas yang harus digaji. Sementara kota ini duitnya masuk kantong2 pribadi sih. Meski begitu, tanggapan sy ini pasti tdk akan bisa menjawab permasalahan yg sebenarnya.