Orang bilang, Bandung gudangnya orang-orang pinter. Sejumlah perguruan silat, eh..tinggi, terkemuka ada di sini. Menghasilkan ilmuwan-ilmuwan kaliber nasional lah paling banter. Tapi, kok…….. ??? Kalau baca koran, denger berita, atau mungkin malah denger desas-desus, para pejabat yang memangku (atau menduduki) jabatan di kursinya masing-masing di dinas anu, dinas ini, dinas ono...kelihatannya mah kayak yang heu-euh!! Yeah, seengganya depannya pake titel tukang ingsinyur atau sekarang mah belakangnya pake es-tek (mungkin masih kerabat mi tektek atau es teler).
Tapi entah dari perguruan silat lidah mana dapetnya titel itu. Soalnya, aplikasinya di lapangan kok seperti keluar dari pemikian orang yang kagak ngerti apa-apa (mungkin cuma ngerti bagaimana menggemukkan kocek baju safarinya doang), atau mungkin cuma untuk membuktikan hasil studi banding di luar negeri biar seolah-olah gak cuma jalan-jalan doang.
Liat aja Jalan Braga. Alih-alih ingin seperti Paris, malah seperti parit (euh, kok mirip woro-woro di atas ya). Wallaaah…jangan-jangan studi bandingnya ke pusat perbelanjaan (tapi jangan salah, pusat perbelanjaan di negeri ini katanya --katanya, karena belum pernah ikut studi banding ke sono-- lebih cuiiw daripada yang ada di Eropa).
Tapi jangan salah --lagi, karena Jalan Braga kini menimbulkan industri baru tersendiri yang bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak, dan menebar rejeki lebih luas lagi. Bayangin aja, setiap minggu, selalu ada batu yang pecah. Otomatis…setiap minggu juga jalan harus dibenerin, dan tentu saja setiap minggu selalu ada orang yang bisa dipekerjakan, yang artinya, mereka bisa dapet duit toh. Di sisi lain, senyum bandar batu andesit tentunya kian lebar….. otomatis berimbas juga sama para penambang batu itu.
Waduh, tapi mudah-mudahan tidak sampai membuat para bandar dan penambang berpikir untuk meratakan gunung-gunung batu gara-gara stok batu menipis untuk mendandani Jalan Braga.
Memang, kemaslahatan jadi menyebar ke wong cilik (mungkin ini juga yang dijadikan pembenaran para konseptor proyek prematur ini --tapi yang gini mah kayanya layak diaborsi, siapa tahu mendatangkan kemaslahatan bagi klinik aborsi proyek-proyek prematur), tapi teuteuuup, wong cilik cuma dapat teri. Kakapnya --apalagi yang merah, yang katanya udah langka-- tetep punya si empunya proyek en koncos.(RA) --foto: bandung.detik.com
3 komentar:
nah ini sudah bagus de Iie.. leioutnya.. ke ah komentarna mikir heula... maca buku heula ah..:)
Rur aku dah mampir nih..dulu juga udah pernah kesini. Keren blognya. Tulisannya oke....
Kathy Sharon....meni formalitas gitu ih komen teh, hahaha....
Ini mah bukan tulisan Kat, gerundelan...
Posting Komentar