Dalam sejarah hidup ini, mendukung partai yang ikut andil dalam pemilihan umum (pemilu), baru terjadi pada Pemilu1981 dan 2004. Pada 1981, karena ikut-ikutan heboh mendukung partai sang bapak yang kala itu berstatus PNS, maka muncullah pendukung-pendukung cilik blo’on.Tapi pada 2004, boleh dibilang dukungan itu keluar dari hati yang cukup dalam, dari pikiran orang yang sudah tidak se-blo’on tahun 1981. Dukungan itu tak lebih karena baru kali itulah ada partai yang seolah-olah dihuni orang-orang yang bersih dan mungkin tidak terlalu terkontaminasi oknum-oknum yang berasal dari zaman purba: Orde Baru. Maka, pada hari “H”, dengan tidak ragu, semua yang bergambar partai tersebut ditusukinya (bagaimana dengan 2009? cape deeeh).
Ketika mendengar berita bahwa partai tersebut mendapatkan kursi terbanyak di DPRD kota ini, kebanggaan menyeruak. Syukurlah, kota ini ternyata masih dihuni orang-orang waras : semoga kota ini akan berubah di bawah pengawasan mereka.
Setahun, dua tahu, tiga tahun, empat tahun, hingga tahun ke-5 berakhir, tak ada yang berubah dari kota ini. Seiring dengan “adem-ayemnya” kota ini, terdengar kabar bahwa Kota Depok setelah dipimpin walikota yang berasal dari partai yang sempat memberi asa ini, mengalami perubahan signifikan. Katanya, Depok setidaknya menjadi lebih bersih dan rapi. Kabar yang bikin siti sirik…
Sementara itu, bisik-bisik tetangga malah meniupkan kabar, hegemoni kewalikotaan kota ini sudah terlalu berurat akar. Pastilah duit yang berbicara.
Para perwakilan partai yang belakangan malah pernah memprofilkan "Panglima Tertinggi Orde Baru" dalam iklan kampanyenya ini, tidak bisa berkutik di dewan. Mereka dikendalikan sistem purba tersebut. Dan bahkan menjadi “si plekih” yang penurut. Idealisme luntur. Korupsi mungkin tidak (tidak ragu-ragu), tapi konco-konconya masih dianut (yang ujung-ujungnya duit juga). Kalau keluar dari keanggotaan di legislatif mengancam periuk nasi keluarga, tak akan ada anggota dewan dari partai yang ngakunya terbersih sekalipun, untuk berani bersikap layaknya almarhun Sophan Sopiaan. Walhasil, Bandung tetep amburadul.
Bandung hanya nyaman karena udaranya. Dari kafe-kafe cozy nan bersih, dari jendela hotel-hotel luks, dari vila-vila mewah yang menghancurkan resapan air, dan dari dalam mobil-mobil adem ber-AC, orang terkagum-kagum. Tapi dari tatapan mata orang-orang yang hanya bisa (atau lebih suka) naik angkot atau berjalan kaki, pemandangan yang ada hanya sampah, sampah, dan sampah; bau comberan dari saluran yang luber; serta pedestrian yang tak nyaman. Kenyamanan alami udara kota ini, telah dikhianati...
Apakah kita harus mengatakan “merindukan masa kolonialisme Belanda”, seperti halnya orang-orang yang menyatakan rindu pada masa orde baru?? Semoga tak harus begitu. (Usai obrolan pelik dengan seorang kawan. Dago, Sabtu, 4 April 2009). --ilustrasi: prajnas.blogspot.com