Ketika ongkos angkot terasa kian menguras kocek, berjalan kaki harusnya menjadi alternatif pengiritan. Apalagi sekarang, untuk jarak cuma sekilometer aja, kita harus rela menyerahkan dua lembar “Kapitan Patimura” kita ke tangan supir. Kecuali bersiap mendapat caci-maki sang supir, di tengah tatapan kasihan (atau malah kasihan deh luu) mata penumpang lain.Tapi untuk berjalan kaki, satu kilometer juga bukan jarak yang terasa dekat kalau kita berjalannya kudu zig-zag, bahkan slalom, syukur-syukur gak sampai off road, gara-gara space untuk pedestrian di kota ini banyak “halang rintangnya”. Bagaimana tidak, baru berjalan semeter sudah ada lubang selokan menganga (eh, tapi untuk ini tak perlu cemas tikusruk, karena selokan kita udah padet oleh sampah), jalan lagi semeter ada gerobak tukang dagang yang bahkan menjejerkan kursi-kursinya di badan trotoar dengan bekas cuciannya yang ngaujubilah geuleuhna.
So suroso, pejalan kaki manggaaa berjalan di badan jalan raya yang menjadi hak kendaraan beroda.
Kalau sudah begitu, siap-siap aja diseruduk sepeda motor (mana motor-motor sekarang rata-rata nyimpen otaknya pada di knalpotnya lagih!). Atau….di-ngekngok-in sama mobil, yang dengan makin canggihnya teknologi, sepertinya makin beraaat untuk memberi kesempatan pada tungkai-tungkai kaki untuk berjalan tanpa mata perlu tengok kanan-kiri-depan-belakang.
Satu kilometer menjadi semakin terasa melelahkan jiwa, karena sepanjang perjalanan, sampah plastik berplastik-plastik, teronggok begitu saja --apakah itu di saluran air, di pinggir trotoar, atau di pinggir pohon peneduh-- dirubung green fly pula alias -maaf- laleur hejo, entah sudah berapa lama. Hhhh...lelahnya jantung ini.
Kalau kondisi kota seperti ini, ide bersepeda, atau memanfaatkan sebanyak mungkin peluang untuk berjalan kaki dengan alasan olah raga, menjadi mimpi yang buroooook!! Alih-alih ingin sehat badannya, eeh malah jadi sakit jiwanya. Kalau begini caranya, tampaknya keinginan Gaikindo (gabungan pengusaha mobil indon pokona mah) untuk selalu menggenjot jumlah penjualan mobil --tak peduli jalan makin macet-- terpaksa harus dimaklumi, dengan harapan kita akan menjadi salah satu penggemuk kantong pengusaha-pengusaha itu.
Karena, kalau sudah berada di dalam mobil model begeenee eenee neeh, kan ndak perlu itu mengotori mata dengan pemandangan sampah-sampah berlaler. Ndak perlu mengecat-ngecot menghindari lubang dan gerobak PKL. Ndak perlu pula menghirup asap knalpot sambil kepanasan karena banyak pohon disunat.… Ndak perlu itu, ndak perluuu…..
Jadi, hayuuu atuh beli mobil kalau punya duit mah. Kalau ngga, wayahnya selalu menjadi orang yang terpepetkan (RA).
7 komentar:
weits.. diam2 eikeh kesindir jg.. tp ya mu gimana lagi hak pejalan kaki sudah sedemikian 'dikebiri'.. sanes teu hoyong..
(ngiring komplein ah)kang Dada bagaimana atuhh... kok study banding melulu, prakteknya maannnnaaa????
"Meni hayang seuri!"
Justru ini mah bukan nyindir. Ini sinisme buat kampanye -kampanye jalan kaki dan bersepeda --sehat dan ramah lingkungan-- tapi ternyata fasilitas yang ada tidak mendukung budaya itu tumbuh. Susaaah buat negeri kaya kita mah!!
mengapa itu leiout diganti.. alus nu kamari i.. btw urg joging besok mun teu huzan..
Emang sih mbak aas, yang sebelumnya secara penampakan lebih oke. Tapi, nyang ini lebih lega, borderless. Maklum sedang merasa sempit..hehe..
Rur, pake mobil memang lebih sehat.. yg gak sehat kantongnya, hehe... harga bensin selangit, pajak mobil mencekik (bari jeung gak sesuai dgn kondisi jalan raya yg rusak parah dimana-mana, dikemanain itu uang pajak tiap tahun teh??) Mau kemana-mana harus bayar tol, bayar polisi ceban (cepek udah gak laku skrg mah) bayar parkir, bayar ini, bayar itu, bayar itu dan ini.. tapi emang sih, gak ketemu laler hejo lagi, hehe..
Itu dia jeng nikimura, makanya kita harus kaya (amiiin, emang dikau belum kaya ya?), Jadi kan gak cuco untuk warga yang tinggal di kota-kota yang semerawut kayak Bandung, menggembar-gemborkan hidup sehat dengan banyak-banyak jalan kaki atau pake sepeda. Alih-alih pengen sehat, malah terjangkit ISPA.
Posting Komentar